a. Sejarah Kesehatan Mental
Zaman Prasejarah
Manusia purba sering kali mengalami gangguan-gangguan baik mental maupun
fisik seperti infeksi, artritis,penyakit pernapas dan usus, serta arteriosklerosis
(penyempitan pembuluh darah).
Tetapi, manusia purba benar-benar berusaha mengatasi penyakit mental.
Ia memandang dan merawatnya sama seperti halnya
dengan penyakit-penyakit fisik lainnya.
Baginya gigi yang sakit dan seorang yang gila disebabkan
oleh penyebab yang sama yakni roh-roh jahat, halilintar,atau mantera-mantera musuh.
Seperti apakah penyakit mental yang dialami oleh manusia purba?
Ada spekulasi yang dapat diterimabahwa beberapa gejala
penyakit mental dewasa ini sangat mirip dengan yang dijumpai
pada zaman dulu. Teori-teori genetika
penyakit sekurang-kurangnya tidak meremehkan pendangan seperti itu.
Penyebab penyakit mental zaman dahulu dapat juga dianggap berhubugan
dengan penyakit mental zaman kita.
Peradaban-peradaban Awal
Dalam semua peradaban awal yang kita kenal di Mesopotamia,
Mesir, Yahudi, India, Cina, dan Benua Amerika, imam-imam dan tukang-tukang sihir
merawat orang-orang yang sakit mental. Di antara semua peradaban tersebut
sepanjang zaman kuno (dari 5000 tahun SM sampai 500 tahun M),
penyakit mental mulai menjadi hal yang umum.
Bersama dengan penderitaan-penderitaan lain,
kekalutan-kekalutan mental menjadi kawan seperjalanan
yang setia bagi manusia pada waktu ia bergerak menuju kehidupan
yang terorganisasi waktu peradaban-peradaban menjadi lebih maju.
b. Konsep Sehat
1. Konsep "sehat" dipandang dari sudut fisik secara individu
2. Konsep "sehat" dipandang dari sudut ekologi
Konsep "sehat" secara fisik dan bersifat individu ialah "seorang dikatakan sehat bila
semua organ tubuh dapat berfungsi dalam
batas-batas normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin".
Kesulitan konsep ini adalah penentuan "normal" masih belum dapat dibakukan.
Konsep "sehat" berdasarkan ekologi ialah "sehat berarti proses penyesuaian
antara individu dengan lingkungannya. Proses penyesuaian ini berjalan terus menerus
dan berubah-ubah sesuai dengan perubahan lingkungan yang mengubah
keseimbangan ekologi dan untuk mempertahankan kesehatannya orang
dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya". Karena adanya perbedaan dalam sudut pandang tersebut maka hingga kini
belum terdapat batasan "sehat" yang memuaskan. Konsep sehat yang banyak dianut
oleh berbagai negara adalah konsep "sehat" yang tercantum dalam pembukuan
WHO (1948) yang berbunyi sebagai berikut.
"Health is atageof complate physical, mental and social wellbeing and not marely the absence of disease or infirmity"
Konsep sehat tersebut sangat ideal hingga dalam kenyataan sulit dicapai maka
timbullah beberapa kritik terhadap konsep tersebut.
1. Sehat bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi merupakan suatu proses
yang dinamis dan berubah-berubah setiap saat
2. Batasan "sejahtera" sangat sulit ditentukan
3. Indikator yang digunakan untuk mengukur sangat banyak dengan validitas yang
berbeda-beda.
c, Kesehatan Mental Konsep Timur dan Konsep Barat
- Konsep Timur
Kearifan Kuno
Konsep Timur tentang kesehatan dan penyakit adalah "qi" atau "chi" (kekuatan hidup).
Dalam filosofi bangsa India, kekuatan hidup adalah prana,
sebuah kata Sansekerta yang berarti energi mendasar yang melingkupi jagat raya, mengalir
dan dari surga ke bumi. Setiap orang yang mengenal baik yoga akan memahami
arti pranayama atau mengendalikan pernapasan. Ini adalah energi yang sama
mengalir melewati saluran-saluran meridian dari tubuh yang sehat.
Hatha yoga, qi gong, tai chi, dan cabang-cabang meditasi Buddhisme.
Zen (salah satu bentuk Buddhisme) dan Taoisme semua mengakui
pentingnya pernapasan dalam menyembuhkan tubuh dan pikiran.
-Konsep Barat
Para pakar Psikologi Barat tidak pernah sepakat mengenai
satu definisi kesehatan mental yang hendaknya bisa direalisasikan
di berbagai lembaga sosial masyarakat. Dengan tidak adanya kesepakatan bersama
dalam memahami kesehatan mental, berarti mereka pun tidak memiliki satu kesepakatan
dalam aplikasinya. Para psikolog adalah orang yang pertama yang dihadapkan
pada permasalahan ini "Teori perilaku, kepribadian ataupun teori psikologi orang sakit,
sama sekali tidak memberikan sarana tematis ataupun sistematis untuk bisa menetapkan
definisi operasional dari kajian yang ada. Definisi perilaku hingga bisa disebut
perilaku tidak ada kesepakatannya. Definisi individual hingga bisa disebut individu
tidak disepakati secara umum, namun lebih mengacu kepada nilai baik dan buruknya.
Setiap psikolog klinis tampaknya harus menetapkan semua ini sesuai
dengan perspektifnya masing-masing".
Sumber
OMF, Semiun Yustinus., 2006., Kesehatan Mental 1., Yogyakarta: Penerbit Kanisius
(Anggota IKAPI)
SKM, Dr Budiarto Eko., Dr Anddraini Dewi., 2001, Pengantar Epidemologi, E/2., Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Tufiq Muhammad Izzudin., 2006., Panduan Lengkap & Praktis Psikologi Islam., Depok:
Gema Insani
Marshden, Kathryn., 2008., The Complete Book of Food Combining : Panduan Diet Sehat Terlengkap, Terbaru dan Mudah Sekali di Praktikan., Bandung: Penerbit Qanita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar